Cherreads

Chapter 7 - 7. ABU DI ATAS TAKHTA LANGIT

Ibu Kota Kerajaan Langit, Aethelgard, yang selama ribuan tahun dikenal sebagai mercusuar peradaban di atas awan, kini menyerupai tungku api raksasa. Langit yang biasanya dihiasi oleh burung-burung surgawi kini tertutup oleh portal-portal hitam pekat yang berdenyut layaknya jantung monster yang lapar. Dari lubang-lubang dimensi itu, legiun iblis tumpah ruah seperti air bah, menelan menara-menara marmer putih dalam kobaran api neraka yang tak kunjung padam.

Jiu Lan melangkah keluar dari pusat asap dan reruntuhan gerbang utama. Setiap langkahnya meninggalkan jejak api hitam yang mematikan rumput-rumput suci di sekitarnya. Ia tidak mengenakan baju besi perang yang berat, ia hanya memakai jubah hitam sutra yang melambai ditiup angin badai, dengan tangan yang memegang pedang Abyssal Spine yang masih meneteskan darah segar.

Wajahnya tetap setenang air telaga di tengah kekacauan tersebut. Tidak ada kebencian yang meledak-ledak, apalagi amarah yang meluap. Yang ada hanyalah ketenangan seorang psikopat yang sedang melakukan rutinitas harian. Baginya, jeritan warga yang berlarian dan runtuhnya bangunan bersejarah hanyalah latar belakang musik yang membosankan.

“Indah, bukan?” gumam Jiu Lan, menoleh sedikit ke arah Mei Lin yang ia seret dengan rantai sihir.

Mei Lin bersimpuh di atas tumpukan puing, matanya yang sembab menatap nanar ke arah kuil penyembuhan tempat ia dulu belajar, yang kini runtuh dihantam oleh iblis raksasa. “Kau... kau benar-benar menghancurkan semuanya, Jiu Lan. Ini rumahmu! Orang-orang ini pernah memuja namamu!”

Jiu Lan berhenti melangkah. Ia berjongkok di depan Mei Lin, meraih dagu gadis itu dengan kasar, dan memaksanya melihat ke arah kerumunan warga yang sedang dibantai oleh pasukan bayangannya di alun-alun.

“Rumah?” Jiu Lan tertawa rendah, sebuah suara yang terdengar lebih dingin dari es abadi. “Rumah adalah tempat di mana kau merasa aman, Mei Lin. Aku tidak pernah merasa aman di sini. Setiap senyuman yang mereka berikan padaku dulu adalah beban yang harus kubayar dengan kemunafikan. Sekarang, aku hanya mengembalikan apa yang seharusnya mereka rasakan sejak lama, ketakutan yang murni.”

Jiu Lan berdiri kembali, lalu dengan lambaian tangannya, ia memanggil sebuah pusaran energi gelap yang mengangkat Mei Lin ke udara. Ia membawa gadis itu menuju menara lonceng tertinggi di pusat kota. Di sana, dengan kekejaman yang tak terbayangkan, Jiu Lan mengikat Mei Lin di tiang bendera tertinggi, menjadikannya sebagai tontonan bagi sisa-sisa pasukan kerajaan yang masih bertahan.

“Tetaplah di sini, Mei Lin,” bisik Jiu Lan di telinganya, suaranya lembut namun mengandung ancaman yang mematikan. “Jadilah saksi bagaimana harapan yang kau percayakan pada Yan Zha akan berubah menjadi abu. Setiap kali satu pahlawanmu jatuh, aku akan memastikan kau melihatnya dari tempat tidur yang istimewa ini.”

Di kejauhan, para Tetua Kerajaan yang tersisa—tujuh penyihir agung yang telah hidup selama ratusan tahun—muncul dari balik asap, membentuk barisan pertahanan terakhir di depan tangga istana. Mereka merapalkan mantra suci, menciptakan kubah cahaya emas yang mencoba menahan laju tentara iblis.

Jiu Lan menatap mereka dari ketinggian menara dengan tatapan meremehkan. Ia melompat turun, meluncur di udara layaknya elang hitam, dan mendarat tepat di depan kubah pelindung tersebut. Ledakan energinya saat mendarat membuat tanah bergetar hebat, retakan-retakan besar menjalar hingga ke dasar menara istana.

“Jiu Lan! Berhenti sekarang atau jiwa kau akan dikutuk selamanya ke dalam neraka terdalam!” teriak pemimpin Tetua, suaranya bergetar antara amarah dan ketakutan.

Jiu Lan hanya tersenyum miring. Ia tidak menggunakan pedangnya. Ia melangkah maju, membiarkan tubuhnya menyentuh kubah energi suci yang seharusnya membakar kulit iblis. Namun, karena adanya Soul Lock yang terhubung dengan Mei Lin di menara, energi suci itu justru terserap dan dialirkan sebagai rasa sakit yang luar biasa kepada Mei Lin.

“Arghhh!” Jeritan Mei Lin menggema dari puncak menara, membelah kesunyian perang.

Para Tetua terhenti. Mereka menyadari pengkhianatan gravitasi dari sihir Jiu Lan. Jika mereka terus menyerang Jiu Lan dengan sihir suci, mereka secara tidak langsung sedang membantai Mei Lin.

“Kenapa kalian berhenti?” Jiu Lan bertanya dengan nada mengejek, melangkah melewati kubah yang kini meredup. “Bukankah kalian adalah penjaga kebenaran? Bukankah satu nyawa tidak berarti dibandingkan keselamatan kerajaan? Ayo, serang aku. Mari kita lihat seberapa besar nyali yang kalian miliki untuk mengorbankan putri kesayangan kalian demi menghentikan monster ini.”

Jiu Lan mencengkeram leher pemimpin Tetua, mengangkat pria tua itu dari tanah dengan satu tangan. Matanya yang merah menyala menatap dalam ke mata sang Tetua, menikmati keputusasaan yang mulai merayap di sana.

“Kalian terlalu lambat untuk menyadari satu hal,” bisik Jiu Lan. “Aku tidak hanya datang untuk takhta. Aku datang untuk menghapus setiap jejak kebaikan yang pernah kalian tanam di dunia ini.”

Dengan satu sentakan tangan, Jiu Lan menghancurkan tongkat sihir sang Tetua dan melempar tubuh lemah itu ke tengah kobaran api. Tidak ada belas kasihan atau pun keraguan. Jiu Lan bukan lagi pangeran yang hilang, dia adalah perwujudan dari kiamat yang tak terelakkan.

Langkah kaki Jiu Lan menggema di lorong luas menuju Aula Singgasana. Marmer putih yang biasanya mengilap kini tertutup debu reruntuhan dan bercak darah para pengawal yang tewas di tangannya. Di belakangnya, beberapa jenderal iblis mengekor dengan tatapan lapar, namun mereka tetap menjaga jarak, tahu benar bahwa amarah Jiu Lan adalah api yang tidak membedakan kawan maupun lawan.

Jiu Lan berhenti di depan pintu ganda emas yang besar. Dengan satu lambaian tangan, pintu itu terlepas dari engselnya dan menghantam lantai aula dengan suara dentuman yang memekakkan telinga.

Ruang singgasana itu kosong, kecuali untuk keagungan yang kini terasa mati. Di ujung ruangan, singgasana ayahnya—Singgasana Matahari—masih berdiri tegak, memancarkan sisa-sisa cahaya suci yang seolah menolak kehadiran Jiu Lan.

“Singgasana yang membosankan,” desis Jiu Lan.

Ia berjalan mendekat, lalu dengan gerakan tanpa hormat, ia menendang mahkota ayahnya yang tergeletak di lantai, mengirimnya berdenting ke sudut ruangan yang gelap. Jiu Lan tidak langsung duduk. Ia justru menghunuskan pedang Abyssal Spine dan menebas sandaran singgasana itu hingga terbelah dua. Cahaya suci yang tersisa padam seketika, digantikan oleh kabut hitam yang merambat dari tubuh Jiu Lan.

Ia kemudian duduk di sisa-sisa reruntuhan takhta tersebut, menyilangkan kakinya dengan angkuh. “Mulai hari ini, sejarah tidak lagi ditulis dengan tinta, melainkan dengan abu yang tersisa dari dunia ini.”

Mei Lin, yang masih terikat oleh proyeksi sihir Jiu Lan, tampak lemas di pojok ruangan. Matanya yang sembab menatap Jiu Lan dengan kebencian murni. “Kau tidak akan pernah menjadi raja, Jiu Lan. Kau hanyalah pencuri yang duduk di atas bangkai.”

Jiu Lan tertawa pelan, sebuah tawa yang kering. ”Aku tidak butuh rakyat yang mencintaiku, Mei Lin. Aku hanya butuh mereka yang takut padaku untuk tetap hidup.”

Tiba-tiba, sebuah getaran aneh muncul. Bukan dari serangan luar, melainkan dari dasar bumi, tepat di bawah singgasana yang baru saja ia hancurkan. Getaran itu terasa dingin—dingin yang tidak berasal dari energi iblis maupun energi suci. Itu adalah jenis kekuatan yang berbeda, sesuatu yang terasa asing.

Jiu Lan mengerutkan kening. Matanya yang merah menyala menyapu lantai marmer yang mulai retak. Cahaya ungu temaram mulai merembes dari celah-celah lantai, membentuk pola-pola geometris yang tidak dikenal oleh ilmu sihir Kerajaan Langit maupun Dunia Bawah.

“Apa ini?” geram salah satu jenderal iblis, mundur dengan ketakutan saat melihat kulit tangannya mulai melepuh hanya karena menyentuh uap ungu tersebut.

Jiu Lan bangkit, rasa penasarannya kini mengalahkan keangkuhannya. Ia menusukkan pedangnya ke celah lantai, mencoba membongkar apa yang disembunyikan ayahnya di bawah takhta ini selama berabad-abad.

BUM!

Lantai aula meledak ke atas. Semburan energi ungu menyapu ruangan, melemparkan para jenderal iblis hingga menghantam dinding. Namun, Jiu Lan berdiri kokoh, meskipun jubah hitamnya terkoyak. Di tengah lubang raksasa yang baru saja terbentuk, melayang sebuah peti mati kristal yang terbungkus oleh rantai-rantai yang terbuat dari cahaya yang tidak stabil.

Di dalam peti itu, seorang wanita yang wajahnya sangat mirip dengan Mei Lin tampak tertidur dalam keabadian. Namun, yang mengerikan adalah jantung wanita itu—jantungnya berdenyut dengan energi ungu yang sama dengan yang melahap Ibu Kota saat ini.

“Jadi, orang tua itu menyembunyikan sesuatu yang lebih menjijikkan daripada aku di bawah sini?” gumam Jiu Lan, seringainya kembali muncul, namun kali ini lebih tajam dan berbahaya. “Kaisar Suci ternyata adalah seorang pemelihara kutukan.”

Jiu Lan menyadari bahwa The Great Purge yang dilakukan oleh Yan Zha dan para Tetua bukan hanya untuk membunuhnya, tapi untuk mengaktifkan mekanisme penghancuran otomatis guna melenyapkan apa pun yang ada di bawah tanah ini—termasuk bukti bahwa Kerajaan Langit dibangun di atas fondasi yang gelap.

Di kejauhan, suara Yan Zha terdengar meraung saat ia akhirnya menembus aula istana. “JIU LAN! SERAHKAN MEI LIN DAN MATILAH!”

Jiu Lan menoleh ke arah pintu, lalu kembali menatap peti mati kristal di depannya. Ia menyeringai ke arah Mei Lin yang kini gemetar hebat saat melihat wajah wanita di dalam peti tersebut.

“Selamat datang di babak baru, Yan Zha,” bisik Jiu Lan. “Mari kita lihat, apakah kau masih bisa menyebut dirimu pahlawan saat kau tahu bahwa seluruh cahayamu berasal dari kegelapan yang sedang kupegang ini.”

Saat Yan Zha masuk ke aula, Jiu Lan tidak menyerangnya. Sebaliknya, Jiu Lan justru memecahkan rantai kristal peti mati tersebut. Ledakan energi ungu yang dilepaskan membuat seluruh Ibu Kota berhenti bergerak. Waktu seolah membeku bagi semua orang, kecuali Jiu Lan dan Yan Zha.

“Pilih, Pahlawan,” ucap Jiu Lan sambil menodongkan pedangnya ke peti mati itu. “Selamatkan wanita di dalam peti ini yang merupakan sumber kehidupan kerajaanmu, atau selamatkan Mei Lin yang nyawanya kini terhubung dengan kematianku?”

More Chapters