Dimensi di balik Gerbang Cermin ternyata bukan jalan keluar, melainkan sebuah ruang isolasi waktu yang diciptakan oleh garis darah kaisar terdahulu. Tempat ini menyerupai aula kehormatan Kerajaan Langit, namun dalam versi yang rusak dan terdistorsi. Di tengah ruangan, berdiri seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun yang sedang menatap tumpukan mayat pelayan istana dengan ekspresi datar.
Itu adalah Jiu Lan di masa kecil. Namun, tidak ada kepolosan di wajah anak itu. Tangannya menggenggam belati pendek yang meneteskan darah, dan di depannya berdiri sosok bayangan iblis agung yang memberikan sebuah gulungan hitam.
Yan Zha tersentak mundur, tangannya mengepal hingga memutih. “Jadi... rumor itu benar. Kau memang sudah menjadi iblis sejak lahir, Jiu Lan. Kau membantai orang-orangmu sendiri bahkan sebelum kau bisa memegang pedang dengan benar.”
Jiu Lan melangkah maju dengan keangkuhan yang memuakkan. Ia tidak terlihat terganggu atau menyesal melihat masa lalunya yang berdarah. Sebaliknya, ia tertawa rendah, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan logam yang haus nyawa.
“Kau terkejut, Yan Zha?” Jiu Lan melirik sahabatnya dengan tatapan merendahkan. “Aku membawa kalian ke sini bukan untuk mencari simpati. Aku membawa kalian agar kau sadar bahwa pahlawan yang kau puja—ayahku—mengetahui hal ini dan tetap membiarkanku hidup karena ia butuh senjata yang tidak punya nurani.”
Jiu Lan mendekati dirinya versi kecil. Ia tidak menunjukkan kasih sayang. Dengan gerakan kasar, ia mencengkeram kerah baju Jiu Lan kecil dan mengangkatnya dari lantai.
“Lihatlah diriku yang dulu,” desis Jiu Lan ke arah Yan Zha dan Mei Lin. “Lemah. Ragu-ragu. Dia butuh waktu terlalu lama untuk menusuk jantung para pelayan itu. Jika aku jadi dia, aku akan melakukannya dalam hitungan detik.”
Mei Lin memalingkan wajah, air mata kesedihan kini berubah menjadi rasa mual. “Kau monster... Kau bangga dengan kekejamanmu sejak kecil?”
“Bangga?” Jiu Lan melempar versi kecilnya ke lantai dengan kasar. “Aku hanya realistis. Di dunia ini, kau adalah predator atau mangsa. Dan aku memilih untuk menjadi predator yang berdiri di atas tumpukan mayat kalian semua.”
Yan Zha menghunuskan sisa kekuatannya, matanya menyala karena amarah yang tak tertahankan. “Jika aku membunuh anak ini sekarang... jika aku menghancurkan memori ini, apakah kau akan lenyap dari sejarah?”
Jiu Lan menyeringai, sebuah senyum psikopat yang paling mengerikan. “Silakan coba, Pahlawan. Tapi kau harus tahu satu hal. Memori ini dilindungi oleh kontrak iblis. Jika kau menyerang anak ini, rasa sakitnya akan dialirkan seratus kali lipat melalui Soul Lock ke jantung Mei Lin.”
Jiu Lan melangkah menuju singgasana di ruang memori itu, duduk di sana dengan santai seolah dia adalah penguasa waktu. Ia menopang dagunya, menatap Yan Zha yang terjebak dalam dilema moral yang menyiksa.
“Ayo, Yan Zha. Pilihannya mudah,” ejek Jiu Lan. “Bunuh aku di masa lalu dan korbankan wanita yang kau cintai, atau biarkan aku terus menjadi tiran yang akan menghancurkan Kerajaan Langit. Aku ingin melihat, seberapa suci moralitas pahlawanmu saat dihadapkan pada pilihan berdarah ini.”
Aula memori itu bergetar hebat saat keputusasaan Yan Zha mencapai puncaknya. Di tengah ruangan, bayangan masa lalu yang kelam mulai memanifestasikan diri, bayangan yang menggambarkan sifat kejam Jiu Lan bahkan dari usia muda. Yan Zha menyaksikan bayangan itu dengan ngeri, menyadari betapa dalam kebusukan di balik wajah tampan itu.
“Hentikan dia, Jiu Lan! Itu adalah memori tentang istrimu! Bagaimana kau bisa diam saja melihat dirimu sendiri menyakiti orang yang seharusnya kau lindungi?” Yan Zha berteriak, suaranya parau oleh kemarahan yang tertahan, menoleh pada Jiu Lan yang masih duduk angkuh di singgasana memori.
Jiu Lan hanya menumpukan dagu pada tangannya, menatap pemandangan itu dengan kebosanan yang nyata. “Melindungi? Yan Zha, kau masih saja terjebak dalam delusi romantis. Bagiku, Mei Lin tidak pernah lebih dari sekadar alat untuk menstabilkan energiku. Jika memori ini ingin mencabik-cabiknya, biarlah. Itu hanya membuktikan bahwa sejak kecil pun, aku tahu cara membuang sampah yang sudah tidak berguna.”
“Kau benar-benar tidak punya nurani...” bisik Yan Zha. Ia menerjang maju, mencoba menghentikan manifestasi memori tersebut, namun setiap kali pedangnya hampir menyentuh bayangan itu, tato Soul Lock di tangan Mei Lin mengeluarkan percikan api hitam yang membakar kulitnya.
Mei Lin mengerang, tubuhnya merosot ke lantai. Rasa sakitnya bukan hanya fisik, melainkan serangan mental yang dilancarkan Jiu Lan melalui ikatan jiwa mereka.
Jiu Lan bangkit dari singgasana, melangkah perlahan menuju Yan Zha yang bersimpuh karena tekanan energi. Ia menginjak tangan Yan Zha yang masih mencoba meraih Mei Lin. “Lihatlah dirimu, Sang Pahlawan. Kau berlutut di depan kenangan masa kecilku. Kau begitu sibuk mencoba menyelamatkan satu wanita, sementara di luar sana, rakyatmu sedang dibantai oleh pasukan yang kukirim. Siapa yang sebenarnya jahat di sini? Aku yang membantai dengan jujur, atau kau yang membiarkan ribuan orang mati demi ego penyelamatmu?”
Jiu Lan kemudian beralih pada Mei Lin. Ia menjambak rambut gadis itu agar ia menatap pemandangan mengerikan di depan mereka. “Lihat baik-baik, Mei Lin. Inilah pria yang kau cintai. Seorang monster yang bahkan tidak ragu membunuh hatinya sendiri demi takhta yang lebih tinggi. Masihkah kau ingin membagi beban denganku?”
Mei Lin menatap mata Jiu Lan. Ia mencari setitik cahaya, namun yang ia temukan hanyalah jurang kegelapan yang dalam. “Aku... aku membencimu, Jiu Lan. Aku menyesal pernah mengenalmu.”
Jiu Lan tersenyum miring, sebuah senyum yang sangat tampan namun memancarkan aura kematian. “Bagus. Kebencianmu adalah bahan bakar terbaik untuk kekuatanku. Jangan pernah lupakan rasa sakit ini, karena aku akan memberikannya padamu setiap hari sampai kau memohon untuk mati di tanganku.”
Tiba-tiba, ruang memori itu mulai retak. Manifestasi memori Jiu Lan meledak menjadi ribuan partikel hitam yang merayap masuk ke dalam tubuh Jiu Lan. Ia menyerap kembali kegelapan masa kecilnya, membuat auranya menjadi berkali-kali lipat lebih mencekam.
“Ritual penggabungan memori selesai,” ucap Jiu Lan dingin. Ia mengangkat tangannya, dan seketika itu juga, dimensi memori itu hancur berkeping-keping.
Saat mereka kembali ke realitas di Istana Obsidian yang telah runtuh, Yan Zha menyadari sesuatu yang mengerikan. Selama mereka terjebak di dalam memori, Jiu Lan tidak hanya berdiam diri. Ia telah menggunakan waktu tersebut untuk memindahkan seluruh pasukan iblisnya masuk ke jantung Ibu Kota Kerajaan Langit melalui jalur dimensi yang ia buka dari dalam memori.
Jiu Lan menatap Yan Zha yang mematung melihat langit ibu kota yang kini tertutup awan hitam.
“Selamat datang di akhir zaman, Yan Zha,” ucap Jiu Lan sambil menggendong Mei Lin yang pingsan dengan cara yang sangat kasar, seakan ia sedang membawa hasil jarahan perang. “Kerajaanmu sedang terbakar, dan kau... kau hanyalah penonton di barisan paling depan.”
Jiu Lan menghilang dalam pusaran asap hitam, meninggalkan Yan Zha sendirian di tengah reruntuhan, dengan satu-satunya hal yang tersisa—sebuah kristal memori yang merekam kekalahan mental sang pahlawan.
