Cherreads

Chapter 5 - 5. PENGEMBARA DI ANTARA DUA DUNIA

Kesunyian di Dimensi Kelabu bukanlah kesunyian yang menenangkan—melainkan kesunyian yang menulikan, seakan waktu sendiri telah mati dan membusuk di tempat ini. Tidak ada matahari, bahkan bulan pun tak tampak, hanya kabut abu-abu abadi yang menelan cakrawala. Bangunan-bangunan kuno dari peradaban yang terlupakan melayang di angkasa tanpa gravitasi, menyerupai nisan-nisan raksasa yang meratapi kekosongan.

Jiu Lan adalah yang pertama terbangun. Ia bangkit dengan gerakan yang terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja melewati ledakan dimensi. Energi abu-abu dari Soul Lock masih berderak pelan di pergelangan tangannya, memberikan perlindungan yang tidak dimiliki oleh dua orang lainnya. Ia menyeka debu dari bahunya, menatap sekeliling dengan pandangan yang tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun.

Matanya yang merah menyala tertuju pada sosok yang terkapar beberapa meter darinya. Yan Zha. Sang pahlawan Kerajaan Langit itu tampak menyedihkan, zirahnya hancur, pedang sucinya terlepas dari genggamannya, dan napasnya terdengar berat serta berdarah.

Jiu Lan melangkah mendekat. Bukannya menolong, ia justru menendang pedang Yan Zha, Aethelgard, yang tergeletak di dekat tangan pemiliknya. Pedang itu berdenting pelan sebelum akhirnya jatuh ke dalam jurang kabut yang tak berdasar, hilang selamanya.

“Pahlawan tanpa pedang,” gumam Jiu Lan, senyum tipisnya yang meremehkan muncul kembali. “Hanya seonggok daging yang menunggu untuk membusuk.”

Jiu Lan kemudian beralih ke Mei Lin. Gadis itu pingsan tak jauh dari sana. Wajahnya yang pucat tampak kontras dengan tanah kelabu tempat ia berbaring. Jiu Lan tidak menunjukkan kasih sayang. Ia menarik kasar pergelangan tangan Mei Lin, melihat tato Soul Lock yang kini bersinar redup. Ia menyadari bahwa di dunia tanpa kompas ini, detak jantung Mei Lin yang terhubung dengannya adalah satu-satunya penunjuk jalan menuju gerbang keluar.

“Bangun, Pahlawan Sombong,” ucap Jiu Lan sambil menendang rusuk Yan Zha dengan kekuatan yang cukup untuk membuat pria itu tersedak darah dan terbangun secara paksa.

“Uhukk! Uhuk!” Yan Zha terjaga dengan rasa sakit yang luar biasa. Ia mencoba menggapai pedangnya, namun hanya menemukan kehampaan. “Di... di mana pedangku? Jiu Lan... kau...”

“Pedangmu sudah berada di tempat yang seharusnya—di pembuangan sampah,” Jiu Lan berjongkok di depan Yan Zha, mencengkeram rambut sahabatnya itu dan menarik kepalanya ke belakang agar mata mereka bertemu. “Selamat datang di Dimensi Kelabu, Yan Zha. Tempat di mana cahaya suci milikmu hanyalah lilin kecil yang menunggu untuk ditiup padam oleh kegelapan.”

“Lepaskan... Mei Lin...” Yan Zha berusaha memukul Jiu Lan, namun dengan satu tangan, Jiu Lan menepisnya dan menghantamkan wajah Yan Zha ke tanah batu.

“Kau masih berani memberi perintah?” Jiu Lan tertawa, suara yang terdengar begitu kejam di tengah kesunyian dimensi. “Lihat dirimu. Kau tidak bisa melindungi dirimu sendiri, apalagi wanita ini. Di sini, hanya aku yang bisa menentukan siapa yang hidup dan siapa yang menjadi santapan makhluk bayangan.”

Jiu Lan berdiri, lalu beralih ke Mei Lin yang mulai sadar. Tanpa memberikan waktu bagi gadis itu untuk memulihkan diri, Jiu Lan merenggut kerah bajunya dan menariknya berdiri. Mei Lin merintih, kakinya lemas, namun Jiu Lan tidak peduli. Ia menyeret Mei Lin seolah-olah gadis itu hanyalah barang bawaan yang tidak berharga.

“Dengarkan aku, Yan Zha,” Jiu Lan menoleh ke belakang dengan tatapan psikopat yang dingin. “Kau boleh mengikutiku dari belakang seperti anjing yang kelaparan, atau kau bisa tetap di sini dan membiarkan Shadow Eaters menguliti kulitmu inci demi inci. Pilihannya ada padamu. Tapi jika kau menggangguku, aku akan mematahkan satu jari Mei Lin untuk setiap langkah salah yang kau ambil.”

Yan Zha menggertakkan gigi, air mata kemarahan mengalir di wajahnya yang penuh luka. Ia terpaksa bangkit, merangkak, dan akhirnya berjalan tertatih mengikuti bayang-bayang Jiu Lan. Ia membenci dirinya sendiri karena harus bergantung pada pria yang paling ia benci di dunia ini.

Di depan mereka, kabut mulai bergejolak. Makhluk-makhluk bayangan tanpa bentuk mulai muncul dari balik reruntuhan, mata mereka yang kuning kelaparan tertuju pada Yan Zha—satu-satunya sumber cahaya murni yang tersisa.

Jiu Lan menyadari hal itu. Ia justru sengaja berjalan lebih cepat, meninggalkan Yan Zha yang tertatih di belakang agar makhluk-makhluk itu mulai menyerangnya. Ia ingin melihat ketakutan murni di mata sahabatnya sebelum ia memberikan bantuan yang menghina.

“Tolong... Jiu Lan...” bisik Mei Lin, melihat makhluk-makhluk itu mulai mengepung Yan Zha.

Jiu Lan berhenti, menoleh sedikit dengan seringai yang membuat bulu kuduk berdiri. “Tolong? Kenapa aku harus menolong seseorang yang ingin memenggal kepalaku beberapa jam yang lalu? Biarkan dia merangkak, Mei Lin. Biarkan dia tahu bagaimana rasanya menjadi sampah yang tidak berdaya.”

Jeritan makhluk bayangan—Shadow Eaters—terdengar seperti gesekan kuku di atas logam dingin. Mereka tidak menyerang Jiu Lan, kegelapan di dalam jiwa sang pangeran terlalu pekat, bahkan bagi monster dimensi sekalipun. Namun, Yan Zha adalah umpan yang sempurna. Cahaya suci yang masih tersisa di nadinya memanggil para monster itu seperti laron menuju api.

“Jiu Lan! Mereka... mereka mendekat!” Yan Zha berteriak, mencoba mengayunkan tinjunya yang lemah saat seekor makhluk bayangan mencabik jubahnya.

Jiu Lan berhenti melangkah, namun ia tidak berbalik. Ia menarik Mei Lin lebih dekat, mencengkeram bahu gadis itu dengan tekanan yang menyakitkan. “Lihatlah, Mei Lin. Lihat pahlawanmu. Dia memohon bantuan kepada iblis yang dia kutuk. Bukankah itu pemandangan yang indah?”

“Hentikan, Jiu Lan! Dia akan mati!” Mei Lin meronta, namun Jiu Lan justru tertawa kecil—sebuah tawa yang kering dan tanpa jiwa.

“Kematian terlalu mudah untuknya,” ucap Jiu Lan. Ia akhirnya berbalik, menatap Yan Zha yang kini dikerubungi oleh belasan bayangan. Dengan satu jentikan jari, Jiu Lan melepaskan gelombang energi hitam yang memukul mundur para monster itu, namun tidak membunuh mereka. Ia hanya memberi Yan Zha sedikit ruang untuk bernapas, hanya agar ia bisa memulai penghinaannya.

“Berlutut,” perintah Jiu Lan.

Yan Zha tertegun di tengah luka-lukanya, “Apa?”

“Berlutut dan akui bahwa kau adalah sampah yang tidak berguna. Katakan bahwa keberanianmu hanyalah topeng dari kelemahanmu. Jika kau melakukannya, aku akan membawamu keluar dari sini. Jika tidak... aku akan membiarkan mereka memakan matamu lebih dulu.”

Yan Zha menggertakkan gigi hingga berdarah. Di depannya, Jiu Lan mengeluarkan sebuah kristal memori dari balik jubahnya—benda sihir yang akan merekam setiap kata dan momen di tempat ini. “Bayangkan wajah para tetua kerajaan saat mereka melihat pahlawan agung mereka bersujud di kaki seorang pengkhianat,” tambah Jiu Lan dengan nada mengejek.

Karena tidak punya pilihan dan demi keselamatan Mei Lin yang terus diseret Jiu Lan, Yan Zha akhirnya menjatuhkan lututnya ke tanah kelabu. Dengan kepala tertunduk dan suara yang hancur, ia menggumamkan kata-kata penghinaan terhadap dirinya sendiri. Jiu Lan merekam semuanya dengan senyum puas.

“Bagus. Anjing yang penurut,” ucap Jiu Lan sambil menendang kristal itu ke arah Yan Zha agar ia yang membawanya.

Mereka melanjutkan perjalanan hingga tiba di depan Gerbang Cermin, sebuah monumen kuno yang berdiri tegak di tengah reruntuhan melayang. Gerbang itu tidak memiliki daun pintu, hanya permukaan perak cair yang memantulkan kegelapan dimensi.

“Gerbang ini membutuhkan persembahan darah yang murni untuk terbuka,” Jiu Lan menatap Mei Lin. Tanpa ragu atau rasa bersalah sedikit pun, ia mengambil belati kecil dan mengiris telapak tangan Mei Lin. Ia membiarkan darah gadis itu menetes ke permukaan cermin.

Mei Lin meringis, matanya terpejam menahan perih, namun Jiu Lan justru menatap aliran darah itu dengan ketertarikan yang dingin. Saat darah menyentuh permukaan perak, gerbang itu bergejolak dan perlahan memperlihatkan sebuah gambaran—bukan jalan pulang, melainkan sebuah memori yang terkunci.

Di dalam pantulan gerbang itu, Yan Zha dan Mei Lin melihat sosok Jiu Lan kecil, berusia sekitar tujuh tahun. Namun, ia tidak sedang bermain di taman istana. Jiu Lan kecil itu berdiri di tengah tumpukan mayat, dan di sampingnya berdiri seorang pria raksasa dengan sayap hitam yang menutupi langit—Raja Iblis Abadi.

Di dalam memori itu, Jiu Lan kecil tidak tampak takut. Ia justru menjabat tangan sang Raja Iblis sambil memegang sebuah gulungan kontrak yang identik dengan yang ia bakar di istana tempo hari.

“Jadi... kau tidak pernah menjadi manusia sejak awal,” bisik Yan Zha dengan ngeri. “Pengkhianatan ini... pembunuhan ayahmu... semuanya sudah kau rencanakan sejak kau masih bocah?”

Jiu Lan menatap pantulan memorinya sendiri dengan tatapan datar. Tidak ada penyesalan, atau pun kesedihan. Ia justru menoleh ke arah Yan Zha dengan senyum yang paling mengerikan yang pernah mereka lihat.

“Ayahku adalah batu loncatan. Kerajaan Langit adalah taman bermainku. Dan kalian berdua?” Jiu Lan melangkah masuk ke dalam gerbang, menyeret Mei Lin bersamanya. “Kalian hanyalah saksi dari mahakarya yang sedang kubangun.”

Saat mereka melewati gerbang, bukannya sampai di istana, mereka justru terlempar ke Masa Lalu Kerajaan Langit, tepat di malam saat Jiu Lan kecil membuat perjanjian dengan iblis.

Jiu Lan menyadari bahwa gerbang ini adalah jebakan waktu yang diciptakan oleh ayahnya sebagai pengaman terakhir. Kini, Jiu Lan harus berhadapan dengan dirinya versi kecil, sementara Yan Zha menyadari bahwa satu-satunya cara untuk menghentikan Jiu Lan di masa depan adalah dengan membunuh Jiu Lan kecil yang ada di depan mereka sekarang.

More Chapters