Suara dentuman logam yang menghantam pintu gerbang Istana Obsidian terdengar seperti lonceng kematian yang dipalu oleh kemarahan dewa. Pintu perunggu setebal satu meter itu tidak hanya hancur, ia meledak menjadi serpihan tajam yang menyapu barisan iblis rendahan di baliknya. Dari balik kabut debu dan api suci, sosok Yan Zha muncul. Zirah peraknya memancarkan cahaya putih yang menyakitkan mata, kontras dengan kegelapan pekat yang menyelimuti aula takhta.
Jiu Lan tidak beranjak dari singgasananya. Ia tetap bersandar, menyilangkan kakinya dengan santai, sementara tangan kirinya mengetuk-ngetuk sandaran tangan yang terbuat dari tulang manusia. Matanya yang merah menyala menatap Yan Zha dengan kebosanan yang disengaja.
“Kau terlambat, Yan Zha,” suara Jiu Lan menggema, tenang namun menusuk. “Aku hampir saja tertidur menunggu pahlawan paling lambat di Kerajaan Langit ini tiba.”
“Tutup mulutmu, Pengkhianat!” Yan Zha meraung. Langkah kakinya meninggalkan jejak api suci di atas lantai batu. Matanya tertuju pada Mei Lin yang dirantai di samping singgasana, wajah gadis itu pucat pasi, matanya kosong menatap lantai. “Apa yang kau lakukan padanya, Jiu Lan?! Kau tidak hanya membunuh ayahmu, kau juga menyiksa wanita yang telah memberikan segalanya untukmu!”
Jiu Lan tertawa pendek, sebuah tawa yang terdengar seperti gesekan pisau di atas kaca. Ia berdiri perlahan, membiarkan jubah hitamnya menjuntai di lantai yang kotor oleh debu peperangan.
“Memberikan segalanya?” Jiu Lan melangkah turun dari singgasana, mendekati Mei Lin. Dengan gerakan kasar yang membuat Yan Zha berteriak murka, Jiu Lan menarik rantai yang membelenggu leher Mei Lin, memaksa gadis itu mendongak. “Dia memberikan apa yang tidak kuminta. Cintanya adalah beban, dan pengorbanannya adalah gangguan. Aku hanya memanfaatkannya agar orang-orang lemah sepertimu datang ke sini, menyerahkan nyawa kalian di tanganku.”
“Jiu Lan... hentikan...” Mei Lin berbisik pelan, suaranya hampir tidak terdengar di tengah gemuruh guntur dari langit yang terkoyak oleh The Great Purge.
“Diam, budak,” desis Jiu Lan dingin. Ia tidak melihat Mei Lin dengan cinta, melainkan dengan tatapan seorang psikopat yang sedang menilai alat percobaannya.
Yan Zha tidak bisa menahan diri lagi. Dengan teriakan yang membelah udara, ia menerjang maju. Pedang sucinya, Aethelgard, menyambar dengan kecepatan cahaya, membelah bayang-bayang di sekeliling Jiu Lan.
CLANG!
Jiu Lan menahan serangan itu dengan pedang hitamnya, Abyssal Spine. Benturan dua energi—suci dan kegelapan—menciptakan gelombang kejut yang meruntuhkan pilar-pilar di sekeliling mereka. Lantai batu di bawah kaki mereka retak sedalam beberapa meter.
“Kau pikir kau bisa mengalahkanku dengan kemarahan kekanak-kanakan ini?” Jiu Lan mengejek. Ia menggunakan satu tangan untuk menahan pedang Yan Zha, sementara tangan lainnya tetap berada di belakang punggungnya, menunjukkan dominasi yang mutlak.
“Aku tidak bertarung dengan kemarahan!” Yan Zha menggertakkan gigi, mengerahkan seluruh energinya. “Aku bertarung demi keadilan rakyat yang kau khianati!”
“Keadilan hanyalah kata-kata indah bagi mereka yang terlalu lemah untuk mengambil apa yang mereka inginkan,” balas Jiu Lan. Tiba-tiba, ia menyeringai mengerikan. Ia sengaja menurunkan pertahanannya sedikit, membiarkan pedang Yan Zha menyayat bahunya.
Darah hitam merembes dari luka Jiu Lan, namun ia tidak meringis. Sebaliknya, ia mengaktifkan tanda Soul Lock di pergelangan tangannya.
“Arghhh!” Mei Lin menjerit kesakitan di singgasananya. Tubuhnya melengkung, seolah-olah dialah yang baru saja disayat oleh pedang Yan Zha.
Yan Zha tersentak, menarik mundur pedangnya dengan wajah ketakutan. “A-apa yang terjadi? Mengapa Mei Lin...”
“Kau lupa, Kawan Lama?” Jiu Lan menyeka darah di bahunya dan menjilatnya dari jarinya sendiri. “Jiwa kami terikat. Setiap luka yang kau berikan padaku, akan dirasakan sepuluh kali lipat lebih menyakitkan olehnya. Jadi, silakan... serang aku lagi. Bunuh aku, jika kau ingin melihat gadis ini hancur menjadi debu di depan matamu.”
Yan Zha gemetar. Pedangnya yang bercahaya mulai meredup. Inilah kekejaman Jiu Lan yang sesungguhnya—ia tidak hanya bertarung dengan kekuatan fisik, ia menghancurkan mental musuhnya dengan menggunakan orang yang paling dicintai musuhnya sebagai tameng rasa sakit.
“Kau... kau benar-benar sudah menjadi iblis,” bisik Yan Zha dengan suara parau.
“Terima kasih atas pujiannya,” jawab Jiu Lan, wajahnya yang tampan tampak sangat jahat di bawah cahaya kilat ungu dari langit-langit istana. “Sekarang, giliranku.”
Jiu Lan menerjang, kecepatannya kini jauh melampaui Yan Zha. Ia tidak langsung membunuh, ia mencabik-cabik zirah Yan Zha satu per satu, memberikan luka-luka kecil yang menyakitkan di sekujur tubuh sahabatnya itu, sambil terus memastikan Mei Lin menyaksikan setiap detik dari tontonan berdarah ini.
Yan Zha terhempas ke lantai batu, memuntahkan darah yang mengotori zirah peraknya. Setiap kali ia mencoba bangkit, Jiu Lan akan menyerangnya dengan kecepatan yang tidak masuk akal, memberikan luka baru yang tidak mematikan namun sangat menyakitkan. Jiu Lan berdiri di hadapannya, memutar-mutar pedang hitamnya dengan gerakan elegan yang memuakkan.
“Bangun, Pahlawan,” ejek Jiu Lan. Ia menginjak luka di paha Yan Zha, menekannya hingga terdengar suara retakan tulang. “Mana api suci yang kau banggakan? Mana keadilan yang kau teriakkan tadi? Apakah hanya segini kemampuan terbaik dari Kerajaan Langit?”
Yan Zha mengerang, menatap Mei Lin yang masih terisak dalam diam di singgasananya. “Jiu Lan... kau... kau benar-benar tidak punya hati...”
“Hati hanya akan membuatmu lambat, Yan Zha. Seperti dirimu sekarang,” Jiu Lan mengangkat pedangnya, bersiap untuk memberikan serangan yang mungkin akan melumpuhkan Yan Zha secara permanen.
Namun, tepat saat pedang itu akan diayunkan, seluruh Istana Obsidian bergetar hebat. Getaran ini berbeda dengan ledakan The Great Purge di atas—getaran ini berasal dari kedalaman bumi yang paling gelap. Suara raungan purba yang merobek pendengaran bergema di seluruh aula, membuat para iblis rendahan yang tersisa langsung mati karena hancurnya gendang telinga mereka.
Lantai aula di tengah-tengah antara Jiu Lan, Yan Zha, dan Mei Lin tiba-tiba meledak. Dari lubang sedalam jurang itu, muncullah Golgoth, Iblis Pemakan Dewa yang telah tersegel selama tiga ribu tahun. Sosoknya setinggi sepuluh meter, dengan kulit menyerupai lava beku dan ratusan mata merah yang menutupi wajahnya yang tak berbentuk.
Kehadiran Golgoth seketika menekan energi di ruangan itu hingga ke titik nol. Yan Zha bahkan tidak bisa mengangkat pedangnya, sementara Jiu Lan terpaksa mundur beberapa langkah, matanya menyipit tajam.
“Jenderal pengkhianat itu...” desis Jiu Lan, menyadari bahwa salah satu bawahannya telah melepaskan segel terlarang ini demi menggulingkannya.
Golgoth tidak mempedulikan kedua pria itu. Insting purbanya langsung tertuju pada sumber energi spiritual paling murni di ruangan tersebut, Mei Lin. Bagi iblis kuno, jiwa suci seperti Mei Lin adalah hidangan utama yang bisa mengembalikan kekuatan penuh mereka.
Monster itu melayangkan cakarnya yang sebesar gerobak ke arah Mei Lin yang masih terbelenggu.
“TIDAK!” Yan Zha berteriak, mencoba merangkak, namun ia terlalu lemah.
Jiu Lan bereaksi lebih cepat. Ia melompat, pedang hitamnya memancarkan aura kegelapan yang pekat.
“Berani-beraninya kau menyentuh mangsaku!” raung Jiu Lan. Ia menebas cakar Golgoth, menciptakan percikan api yang menyilaukan.
Pertarungan tiga arah pecah. Jiu Lan harus menahan serangan monster raksasa itu sambil tetap waspada terhadap Yan Zha. Namun, sesuatu yang aneh terjadi pada tanda Soul Lock di pergelangan tangannya. Tanda itu tidak lagi memancarkan warna merah darah, melainkan berubah menjadi abu-abu keperakan.
Energi aneh mulai mengalir dari Mei Lin ke tubuh Jiu Lan, namun energi ini tidak menyiksa. Energi ini terasa netral. Energi tersebut justru menekan kekuatan iblis Jiu Lan dan kekuatan suci Yan Zha secara bersamaan.
“Apa ini?!” Jiu Lan terkejut melihat tangannya yang mulai bercahaya abu-abu. Ia merasa kekuatannya tertahan, namun di saat yang sama, ia merasa lebih stabil.
Golgoth meraung marah karena mangsanya dilindungi. Ia membuka mulutnya yang dipenuhi deretan gigi setajam silet, mengumpulkan energi kehancuran untuk menyemburkan api neraka yang akan meratakan seluruh istana.
Jiu Lan melirik Yan Zha yang masih berusaha berdiri di dekat kaki monster itu. “Yan Zha! Jika kau ingin wanita itu selamat, berikan energi suci terakhirmu pada pedangku! SEKARANG!”
“Kenapa aku harus memercayaimu?!” balas Yan Zha penuh kebencian.
“Karena hanya pedangku yang bisa menembus kulit monster ini! Cepat, sebelum kita semua menjadi abu!” Jiu Lan tidak memohon—ia memerintah dengan nada yang sangat sombong, bahkan di tengah maut.
Yan Zha, dengan sisa kekuatannya, melemparkan pedang sucinya ke arah Jiu Lan. Jiu Lan menangkapnya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya tetap memegang pedang hitamnya. Gabungan dua energi yang berlawanan—suci dan gelap—yang dimediasi oleh energi abu-abu dari Soul Lock, menciptakan kekuatan baru yang belum pernah dilihat dunia.
Jiu Lan menerjang tepat ke mulut Golgoth saat monster itu melepaskan semburannya.
BOOM!
Ledakan energi raksasa menelan mereka semua. Cahaya dari The Great Purge di atas pun akhirnya menembus atap istana, bergabung dengan ledakan di bawah.
Saat debu mengendap, Istana Obsidian hanya menyisakan reruntuhan yang hancur total. Golgoth telah menghilang, namun begitu juga dengan Jiu Lan, Yan Zha, dan Mei Lin.
Di tengah puing-puing, hanya ditemukan satu hal—Mahkota Langit yang telah pecah menjadi tiga bagian. Namun, tidak ada satu pun mayat yang ditemukan.
