Cherreads

Chapter 2 - 2. BELENGGU JIWA

Debu mesiu dan aroma belerang memenuhi udara. Cahaya putih yang meledak dari altar rahasia itu perlahan memudar, meninggalkan sisa-sisa energi yang berderak di dinding batu istana yang retak. Jiu Lan terbatuk, darah segar merembes dari sudut bibirnya, mengotori lantai marmer yang kini tak lagi berkilau. Dadanya terasa seperti dihujam ribuan jarum es—jantungnya berdegup dengan ritme yang tidak wajar, seolah ada detak jantung lain yang mencoba menyamakan frekuensi dengannya.

Jiu Lan menyadari bahwa kontrak keabadian ayahnya tidak benar-benar hancur. Sebaliknya, kontrak itu kini telah berpindah, terbagi menjadi dua bagian yang saling mengunci nyawa mereka berdua. Jika Jiu Lan mati, gadis itu juga akan mati. Jika Jiu Lan menjadi iblis sepenuhnya, gadis itu akan kehilangan jiwanya.

Jiu Lan berdiri mematung di tengah reruntuhan, menyadari bahwa pengorbanan sucinya baru saja menjadi bencana yang jauh lebih rumit. Kini, ia tidak hanya harus menyelamatkan dunia, tapi juga harus membunuh orang yang paling ia cintai agar kontrak itu tidak memakan seluruh negeri.

Ia berusaha bangkit, namun pandangannya kabur. Di tengah rungu yang berdenging, ia mendengar napas pendek yang tersengal.

“Mei Lin...” bisik Jiu Lan. Suaranya pecah, jauh dari wibawa sang pangeran yang biasanya.

Di tengah lingkaran sihir yang kini padam, Mei Lin terkapar lemas. Gadis itu, yang seharusnya sudah berada di balik gerbang benteng utara bersama para pengungsi, justru berada di sini dengan telapak tangan yang bersimbah darah. Di pergelangan tangannya yang seputih salju, sebuah tanda tato merah gelap perlahan muncul, melingkar seperti rantai berduri yang meresap ke dalam kulit.

Jiu Lan merangkak mendekat, tangannya gemetar saat ia menyentuh pergelangan tangan gadis itu. Seketika, rasa panas yang membakar menjalar dari tangannya ke seluruh tubuhnya. Tanda yang sama muncul di pergelangan tangan Jiu Lan.

Soul Lock—Segel Gembok Jiwa.

“Bodoh...” Jiu Lan menggeram, matanya memerah karena amarah dan kepedihan yang bercampur menjadi satu. “Apa yang telah kau lakukan, Mei Lin? Kau tidak hanya memberikan nyawamu... kau mengikat takdirmu pada setan!”

Mei Lin membuka matanya perlahan. Kelopak matanya yang indah tampak berat, namun di dalam manik matanya, tidak ada ketakutan. Hanya ada ketenangan yang keras kepala. “Aku melihat kontrak itu, Jiu Lan. Sebelum kau membakarnya, aku melihat namamu tertulis di sana... bukan sebagai penikmat keabadian, tapi sebagai penjamin. Kau pikir aku akan membiarkanmu menanggung kutukan seluruh kerajaan ini sendirian?”

“Kau tidak tahu apa-apa!” Jiu Lan membentak, suaranya menggelegar di ruang bawah tanah yang sunyi. Ia merenggut tangan Mei Lin, wajahnya mendekat dengan tatapan yang ingin mengintimidasi. “Aku membunuh ayahku! Aku memanggil iblis! Aku adalah pengkhianat yang dicari langit! Dengan mengikat jiwamu padaku, kau baru saja menandatangani surat kematianmu sendiri!”

Mei Lin tersenyum getir, sebuah senyum yang menghancurkan benteng pertahanan Jiu Lan lebih efektif daripada pedang apa pun. “Maka biarlah dunia mengeksekusiku bersamamu. Setidaknya, di neraka nanti, kau tidak akan kedinginan.”

Jiu Lan terdiam. Ia ingin memeluk gadis itu, membisikkan bahwa ia mencintainya lebih dari nyawanya sendiri. Namun, gemuruh langkah kaki dari atas istana menyadarkannya. Yan Zha dan pasukan elit Langit telah tiba. Jika mereka menemukan Mei Lin dalam keadaan terikat secara magis dengan sang pengkhianat, mereka tidak akan mengampuninya. Mei Lin akan dianggap sebagai antek iblis, atau lebih buruk lagi, alat untuk memeras Jiu Lan.

Ia harus menjadi monster. Sekarang juga.

Jiu Lan berdiri tegak, menyeka darah di wajahnya dengan punggung tangan. Saat pintu rahasia itu diledakkan dari luar, Jiu Lan dengan kasar menjambak kerah pakaian Mei Lin dan menariknya berdiri. Ia memposisikan gadis itu di depannya, menghunuskan pedang Cahaya Langit yang kini telah menghitam tepat di leher Mei Lin yang jenjang.

“Berhenti!” raung Jiu Lan saat Yan Zha dan selusin prajurit merangsek masuk dengan busur yang sudah terisi anak panah.

Yan Zha membeku. Wajahnya yang penuh peluh dan debu berubah pucat saat melihat Mei Lin di bawah ancaman pedang sahabatnya sendiri. “Jiu Lan... lepaskan dia! Dia tidak ada hubungannya dengan ambisimu! Kau sudah membunuh raja, apa kau juga ingin menghabisi istrimu sendiri?”

“Istri?” Jiu Lan tertawa gila, tawa yang terdengar sangat meyakinkan bagi siapa pun yang mendengarnya. “Dia bukan lagi istriku. Dia adalah sandera paling berharga yang dimiliki kerajaan ini. Jika kalian maju satu langkah lagi, aku akan memastikan darahnya membasahi altar ini sebelum aku pergi ke Dunia Bawah.”

“Kau iblis!” teriak salah satu prajurit.

“Aku memang iblis,” jawab Jiu Lan dingin. Matanya berkilat merah, memancarkan aura kegelapan yang membuat suhu ruangan turun drastis hingga napas mereka menjadi embun. “Dan sebagai iblis, aku butuh mainan untuk menemaniku di kegelapan.”

Mei Lin hanya diam, membiarkan tubuhnya lemas dalam cengkeraman Jiu Lan. Ia merasakan jantung Jiu Lan berdetak sangat kencang di punggungnya, sebuah kontradiksi dari suaranya yang begitu kejam. Ia tahu Jiu Lan sedang berakting, namun rasa sakit dari pedang yang menempel di kulitnya terasa sangat nyata.

Jiu Lan membisikkan sesuatu di telinga Mei Lin, sebuah mantra pelarian yang hanya bisa didengar olehnya. “Pegang erat-erat, dan jangan lepaskan, apa pun yang kau lihat di bawah sana.”

Seketika, lantai di bawah mereka retak dan runtuh menjadi lubang tanpa dasar yang memuntahkan api biru. Jiu Lan melompat ke dalam jurang dimensi tersebut sambil mendekap Mei Lin erat-engah, menghilang dari pandangan Yan Zha yang hanya bisa berteriak frustrasi.

Mereka jatuh melewati ruang dan waktu yang terdistorsi. Udara di sekitar mereka melolong seperti jeritan jiwa-jiwa yang tersiksa. Di tengah jatuhnya yang mematikan, Jiu Lan membalikkan posisi tubuh mereka, memastikan dirinya yang berada di bawah untuk menahan benturan saat mereka mendarat.

BUM!

Mereka menghantam lantai batu yang dingin di Istana Obsidian, jantung dari Dunia Bawah. Tempat ini adalah kebalikan dari keindahan Kerajaan Langit—pilar-pilarnya terbuat dari tulang raksasa kuno, dan langit-langitnya adalah pusaran awan ungu yang terus-menerus menyambar kilat.

Ribuan monster—setengah manusia, setengah binatang, dengan mata menyala kelaparan—berkumpul di aula besar tersebut. Mereka mendesis melihat kedatangan tuan baru mereka yang membawa mangsa manusia.

“Tuan Jiu Lan...” Jenderal Iblis, sosok bertanduk tiga dengan zirah berduri, melangkah maju. Matanya tertuju pada Mei Lin. “Wanginya begitu manis... bolehkah kami mencicipi sedikit daging dari sandera yang kau bawa ini?”

Jiu Lan bangkit, meskipun kakinya terasa patah. Ia berdiri di depan Mei Lin yang masih berusaha memulihkan kesadarannya. Dengan satu lambaian tangan, gelombang energi hitam menyapu aula tersebut, melempar monster-monster yang terlalu dekat hingga menghantam dinding.

“Dia adalah milikku,” suara Jiu Lan bergetar oleh otoritas yang mutlak. “Siapa pun yang menyentuh ujung rambutnya tanpa izin dariku, akan kujadikan bahan bakar api abadi selama sepuluh ribu tahun. Apakah aku terdengar bercanda, Jenderal?”

Sang jenderal menunduk gemetar. “T-tentu tidak, Tuanku.”

Jiu Lan kemudian berbalik ke arah Mei Lin. Tanpa kehangatan sedikit pun, ia menarik tangan gadis itu dan menyeretnya menuju sebuah menara terisolasi yang menghadap ke lembah api. Ia melempar Mei Lin ke dalam ruangan besar yang dipenuhi jeruji besi magis.

“Ini adalah tempatmu sekarang,” ucap Jiu Lan, membelakangi Mei Lin agar gadis itu tidak melihat air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. “Jangan berharap ada kemewahan. Kau adalah tahananku, dan aku adalah tuanmu. Lupakan tentang cinta, lupakan tentang pengorbanan. Di dunia ini, hanya ada penderitaan.”

Jiu Lan melangkah pergi, pintu besi berdentang menutup dengan suara yang memekakkan telinga. Ia berjalan menyusuri lorong panjang istana, tangannya terus mencengkeram pergelangan tangan yang bertato. Rasa sakit dari Soul Lock itu semakin menjadi—ia bisa merasakan ketakutan, kesedihan, dan kerinduan Mei Lin mengalir ke dalam jiwanya seperti racun yang manis.

Ia tahu, dengan adanya Mei Lin di sini, rencananya akan seribu kali lebih sulit. Ia harus menjaga topengnya di depan para iblis, sambil diam-diam melindungi gadis itu dari konspirasi Dunia Bawah yang kejam.

Tiba-tiba, seorang pelayan iblis berlari mendekat dengan wajah panik. “Tuanku! Ada masalah! Tentara Langit... mereka tidak hanya diam! Mereka baru saja memanggil The Great Purge—Pembersihan Agung. Mereka akan menghancurkan seluruh dimensi ini, termasuk manusia yang kau bawa, jika kau tidak segera menyerahkan Mahkota Langit!”

Jiu Lan berhenti mendadak. Mahkota Langit—kunci untuk mengendalikan gerbang dimensi—telah ia hancurkan sebagian. Jika rakyatnya sendiri memilih untuk membumihanguskan Dunia Bawah demi membunuhnya, maka Mei Lin akan mati bersama semua iblis di sini.

“Mereka gila,” bisik Jiu Lan. “Mereka lebih memilih membakar rumah mereka sendiri daripada membiarkan seorang pengkhianat hidup.”

Jiu Lan menatap ke arah luar jendela menara, ke arah cakrawala yang mulai bersinar dengan cahaya putih penghancuran dari langit. Ia menyadari satu hal—musuhnya bukan lagi sekadar iblis, melainkan orang-orang yang ia cintai yang kini dibutakan oleh dendam.

Jiu Lan harus memilih—tetap berada di Dunia Bawah untuk melindungi Mei Lin dari serangan rakyatnya sendiri, atau kembali ke Kerajaan Langit untuk menghadapi pasukan pahlawan sendirian demi menghentikan ritual pembersihan tersebut. Namun, jika ia pergi, Mei Lin akan menjadi sasaran empuk para jenderal iblis yang haus darah.

Di saat yang sama, tanda Soul Lock di lengannya mulai bersinar terang, menandakan bahwa Mei Lin sedang melakukan sesuatu yang gila di dalam penjara—sesuatu yang bisa membunuh mereka berdua dalam hitungan detik.

More Chapters