Cherreads

Chapter 3 - 3. PERJAMUAN DI ATAS PENDERITAAN

Aula Istana Obsidian bergetar bukan karena gempa, melainkan karena tawa rendah puluhan Jenderal Iblis yang menggema di antara pilar-pilar tulang. Aroma anggur fermentasi yang tajam bercampur dengan bau anyir darah segar yang sengaja disajikan di atas meja-meja batu hitam. Di puncak ruangan, duduk di atas singgasana yang dipahat dari tengkorak naga kuno, Jiu Lan bersandar dengan keangkuhan yang memuakkan.

Jubah hitamnya menjuntai hingga ke lantai, dan mahkota perak yang ia curi dari mayat ayahnya kini bertengger miring di kepalanya—sebuah simbol penghinaan terhadap martabat Kerajaan Langit. Wajahnya tetap setampan dewa, namun senyum tipis yang tersungging di bibirnya lebih mirip sayatan belati yang haus akan darah.

“Bawa dia masuk,” perintah Jiu Lan. Suaranya tenang, namun memiliki tekanan yang membuat udara di sekitarnya terasa membeku.

Pintu perunggu berat di ujung aula terbuka dengan bunyi derit yang menyayat hati. Dua iblis cebol menyeret Mei Lin masuk. Gadis itu tidak lagi mengenakan pakaian sutra indah—ia mengenakan gaun pelayan yang kotor dan robek di beberapa bagian. Tangannya dibelenggu oleh rantai hitam yang terus-menerus menyerap energi spiritualnya, membuatnya tampak pucat dan rapuh.

“Jiu Lan...” bisik Mei Lin, suaranya parau. Ia menatap pria di atas singgasana itu dengan sisa-sisa harapan yang menyakitkan. “Kumohon, hentikan kegilaan ini sebelum kau benar-benar kehilangan dirimu.”

Jiu Lan tidak menjawab. Ia justru menyesap anggurnya perlahan, membiarkan cairan merah itu membasahi bibirnya sebelum akhirnya menatap Mei Lin dengan pandangan kosong—seolah gadis di depannya hanyalah seekor serangga yang sedang menggeliat sekarat.

“Kehilangan diriku?” Jiu Lan tertawa. Tawa itu tidak memiliki kehangatan—tawa seorang predator yang sedang menikmati mangsanya. “Mei Lin, kau selalu begitu naif. Kau pikir pengkhianatanku adalah sebuah kecelakaan? Kau pikir aku membunuh ayahku karena aku kehilangan kendali?”

Jiu Lan bangkit dari singgasananya, melangkah turun dengan perlahan. Setiap ketukan sepatunya di lantai batu terasa seperti detak jam kematian bagi harapan Mei Lin. Ia berdiri tepat di depan gadis itu, meraih dagunya dengan jari yang dingin, memaksa Mei Lin menatap langsung ke dalam matanya yang kini memancarkan cahaya merah jahat.

“Aku telah merencanakan malam itu sejak sepuluh tahun yang lalu,” ucap Jiu Lan dengan nada santai, seolah sedang menceritakan dongeng masa kecil. “Kenapa kau pikir aku mendekatimu? Kenapa kau pikir aku membiarkanmu percaya bahwa aku mencintaimu? Itu karena aku butuh sandera yang memiliki ikatan darah dengan dewan tetua kerajaan. Kau hanyalah bidak yang sangat berguna, Mei Lin. Dan sekarang, kegunaanmu telah berubah.”

Mei Lin menggeleng, air mata mulai mengalir deras di pipinya. “Tidak... kau berbohong. Aku tahu kau tidak seperti ini...”

“Benarkah?” Jiu Lan meremas dagu Mei Lin lebih keras hingga gadis itu merintih. “Lihatlah sekelilingmu. Lihat para jenderal ini. Mereka adalah keluargaku yang sebenarnya. Mereka tidak berbicara tentang cinta atau pengampunan, mereka berbicara tentang penaklukan. Dan aku lebih suka memerintah di neraka daripada menjadi anjing penurut di surga.”

Tiba-tiba, Jiu Lan melepaskan cengkeramannya dan berbalik ke arah para Jenderal Iblis. “Siapa di antara kalian yang ingin melihat bagaimana rasanya menghancurkan jiwa seorang putri dari Kerajaan Langit?”

Sorak-sorai liar pecah. Para iblis itu mendekat, mata mereka kelaparan. Jiu Lan tidak menunjukkan tanda-tanda ingin melindungi Mei Lin. Sebaliknya, ia mengangkat tangannya, mengaktifkan segel Soul Lock di lengannya.

“Argh!” Mei Lin jatuh tersungkur, memegang dadanya yang terasa seperti diremas oleh tangan raksasa tak kasat mata.

Jiu Lan tidak berbagi beban rasa sakit itu—ia justru mengarahkan seluruh beban kutukannya ke arah Mei Lin. Ia ingin menunjukkan kepada para iblis bahwa ia memiliki kendali mutlak atas sanderanya. Di bawah kaki Jiu Lan, Mei Lin menjerit kesakitan, sementara Jiu Lan hanya berdiri diam, menikmati tontonan itu dengan tatapan yang sepenuhnya psikopat.

“Kau lihat, Yan Zha?” gumam Jiu Lan, menatap ke arah proyeksi cermin sihir yang terhubung ke gerbang Kerajaan Langit. “Wanita yang kau cintai ini... dia menderita karena kebodohanmu yang tidak kunjung menghentikan serangan The Great Purge itu. Setiap detik kalian menyerang perbatasanku, aku akan mencabuti sepotong jiwanya.”

Di seberang cermin sihir, wajah Yan Zha tampak merah padam oleh amarah dan keputusasaan. “Kau monster, Jiu Lan! Kau tidak pantas memiliki wajah itu!”

Jiu Lan hanya tersenyum miring. “Wajah ini adalah anugerah, Yan Zha. Karena dengan wajah ini, orang-orang sepertimu akan selalu ragu untuk membunuhku sampai saat terakhir. Dan keraguan itu... akan menjadi kehancuran kalian.”

Jiu Lan kemudian menginjak rantai yang membelenggu tangan Mei Lin, menekan gadis itu ke lantai yang dingin sementara para iblis di sekelilingnya mulai menari dalam kegilaan. Tidak ada cinta di sana. Tidak ada rencana rahasia untuk menyelamatkan siapa pun. Hanya ada seorang pria yang telah jatuh ke dalam kegelapan dan memutuskan untuk membawa semua orang bersamanya.

Di luar benteng Istana Obsidian, langit mulai terkoyak. Kerajaan Langit telah memulai ritual The Great Purge, sebuah sihir pembersihan kuno yang dirancang untuk membakar dimensi iblis hingga ke abu. Cahaya putih suci, yang seharusnya menjadi simbol harapan, kini terlihat seperti bilah pedang raksasa yang memotong cakrawala ungu.

Jiu Lan mengabaikan semua itu. Ia kembali duduk di singgasananya, menyilangkan kakinya dengan santai, sementara Mei Lin masih tersungkur di lantai, terbatuk-batuk menahan sakit akibat Soul Lock yang terus ia aktifkan.

“Pembersihan Agung itu akan menghancurkan segalanya, Tuanku,” lapor Jenderal Iblis bertanduk tiga itu dengan panik. “Ini akan memusnahkan kita semua, termasuk sandera manusia di sana!”

Jiu Lan menyesap anggurnya lagi. “Biarkan saja.”

“Tapi... tapi kekuatan dari Pembersihan Agung itu...”

“Kekuatan,” potong Jiu Lan dingin, “adalah milik mereka yang tahu cara menggunakannya.”

Dengan gerakan cepat, Jiu Lan melompat dari singgasana dan melayang ke balkon tertinggi istana. Ia mengangkat kedua tangannya ke arah langit yang membara—seperti aksi arogansi yang buta.

“Kerajaan Langit berpikir mereka bisa membakar dimensi ini?” gumam Jiu Lan dengan senyum tipis. “Mereka tidak sadar bahwa dengan begitu, mereka juga membakar perlindungan terakhir mereka.”

Jiu Lan mulai merapalkan mantra dalam bahasa kuno. Namun, bukan mantra pertahanan, melainkan mantra penyerapan. Ia menggunakan energi suci dari The Great Purge dan menyalurkannya ke dalam tubuhnya sendiri, mengubah energi suci itu menjadi kekuatan iblis murni. Ini adalah tindakan narsistik di mana ia mengklaim kekuatan musuhnya sebagai miliknya.

Di bawah sana, Mei Lin, meskipun kesakitan, melihat apa yang dilakukan Jiu Lan. Ia tahu, dengan menyerap energi itu, tubuh Jiu Lan akan mengalami transformasi yang mengerikan. Pria itu tidak peduli pada rasa sakit—ia hanya peduli pada kekuatannya sendiri.

“Dia bukan phoenix yang bangkit dari abu,” bisik Mei Lin pada dirinya sendiri, air matanya kering. “Dia adalah monster yang lahir dari kesombongan.”

Jiu Lan di atas sana terlihat semakin kuat. Kulitnya mulai memancarkan cahaya hitam legam, dan matanya bersinar merah menyala permanen. Pemandangan itu, meskipun mengerikan, tetap dibalut oleh ketampanan wajahnya yang sempurna—seperti iblis berwajah malaikat.

Sementara di aula utama, Jenderal Iblis itu melihat peluang. Tuan barunya sedang sibuk menyerap energi, meninggalkan sanderanya sendirian. Rasa takutnya terhadap Jiu Lan tergantikan oleh nafsu. Ia mendekati Mei Lin yang lemah.

“Sang pangeran sudah melupakanmu, nona manis,” desis sang jenderal.

Namun, sebelum iblis itu bisa menyentuh Mei Lin, sebuah bayangan hitam melesat dari langit-langit. Jiu Lan telah kembali, matanya penuh amarah—tapi bukan amarah karena Mei Lin dalam bahaya, melainkan amarah karena ada yang berani mengganggu miliknya.

BAM!

Jiu Lan mendarat di depan Mei Lin dan meninju kepala Jenderal Iblis itu hingga hancur berkeping-keping. Darah dan otak iblis memercik ke mana-mana, termasuk ke gaun kotor Mei Lin.

“Aku bilang, dia milikku!” raung Jiu Lan. Ia tidak terlihat heroik, namu tampak posesif dan gila. Ia menendang tubuh jenderal iblis yang sudah tak bernyawa itu ke samping seolah-olah itu hanya sampah.

Jiu Lan kemudian menatap Mei Lin. Gadis itu menatapnya dengan ketakutan murni sekarang. Harapan di matanya telah sepenuhnya padam. 

“Bagus,” pikir Jiu Lan dingin. “Ketakutan adalah emosi yang paling jujur.”

“Kau akan melayaniku di sini,” ucap Jiu Lan dengan suara yang jauh lebih kejam dari sebelumnya, menggunakan kekuatan barunya. Ia tidak peduli bahwa Soul Lock di tangannya terasa sangat sakit sekarang, mencerminkan ketakutan dan keputusasaan Mei Lin yang luar biasa. Ia mengabaikan rasa sakit itu.

Ia menarik Mei Lin berdiri, lalu mengikatnya di singgasana tulang di depannya. Di mata para iblis yang tersisa, Jiu Lan adalah raja baru yang kejam dan tangguh. Jiu Lan adalah sosok narsistik yang menikmati penderitaan orang lain.

The Great Purge di luar semakin kuat, tapi Jiu Lan sudah siap. Ia duduk di singgasana lain yang lebih kecil, memandang Mei Lin yang dirantai dengan senyum puas.

“Mari kita lihat, Mei Lin,” bisik Jiu Lan, dengan nada mengejek. “Siapa yang akan bertahan paling lama di antara kita? Langit, iblis, atau dirimu yang menyedihkan?”

Jiu Lan mencengkeram tato Soul Lock di lengannya. Ia mulai menyalurkan kekuatan barunya yang gelap ke dalam tato itu, berniat untuk menggunakan ikatan jiwa tersebut sebagai sumber energi cadangan untuk perang yang akan datang.

Mei Lin memejamkan matanya erat-erat, air mata terakhirnya mengering. Dia tidak lagi melihat pangeran yang hilang, hanya seorang tiran tampan yang kejam.

Saat Jiu Lan menyalurkan energi gelap ke dalam Soul Lock, sesuatu yang tidak terduga terjadi. Alih-alih menyerap jiwa Mei Lin, energi dari gadis itu—yang sebenarnya adalah energi suci yang murni—menolak bergabung dengan kegelapan.

Tato Soul Lock di tangan mereka berdua berubah menjadi abu-abu. Ikatan jiwa itu tidak lagi menjadi sumber kekuatan atau alat penyiksaan, melainkan sebuah penghalang yang mencegah Jiu Lan menjadi iblis sepenuhnya, dan mencegah Mei Lin menjadi manusia biasa. Mereka berdua kini terjebak di tengah-tengah.

Jiu Lan menatap tangannya dengan ngeri. Rencananya untuk menjadi iblis sempurna telah digagalkan oleh ikatan yang paling ia benci.

Di kejauhan, Yan Zha berhasil menembus perbatasan Dunia Bawah, pedangnya menyala dengan api suci, siap memenggal kepala sang pengkhianat yang ia sebut sahabat.

More Chapters